Sabtu, 17 April 2010

- Melukis Mimpi -


Malam itu entah kenapa tiba-tiba dia menyinggung sedikit tentang mimpinya. Aku mendengarkan seperti layaknya seorang pacar yang baik, karena jarang-jarang dia membuka diri, dan ini adalah salah satu kesempatan langka yang betul-betul jarang terjadi. Ku atur posisi badanku senyaman mungkin, dan memperhatikan layar monitor untuk setiap tulisan yang ia ketik.

Tulisan? Ya, lewat media tulisan di yahoo messenger lah kami berkomunikasi setiap hari. Jika dihitung-hitung...hampir 6 bulan ini kami berpacaran jarak jauh, dia di Beijing meneruskan studi S2nya, sedangkan aku tinggal di Bali. Kapan tepat tanggal dan bulannya kami berkomitmen, sampai sekarang pun masih rancu. Yah, intinya kami memang berpacaran dan saling menyayangi, hanya itu yang perlu kami tau, dan tanggal maupun bulan menjadi tidak penting lagi.

Hubungan kami pasang surut dan beresiko, beberapa kali putus sambung, dan diwarnai kehadiran orang-orang ketiga. Tapi berkali-kali aku ingin lari darinya, berkali-kali pula batinku menjerit meronta ingin kembali.

Anno, sadarkah kamu bahwa aku sangat sayang...? Dan jikalau seperti kata pepatah bahwa cinta memang buta, maka sekarang aku mencoba meraba-raba dengan mata hati untuk melihat isi hatimu yang terdalam.

Lalu ketikan-ketikan mengenai mimpi-mimpinya mulai meluncur lancar seperti air bah yang tidak terbendung.

Impiannya ternyata sederhana...bukan impian yang wah untuk orang sekelas pendidikan yang ia kenyam. Ia ingin membuka usaha kecil-kecilan, sebuah Cafe untuk breakfast tepatnya, yang masing-masing karyawannya memiliki saham...meminjam istilah keren yang ia pakai, 'Usaha Bersama'. Cafe itu, sesuai fungsinya, hanya buka dari subuh sampai kira-kira jam 10 pagi. Menyajikan makanan-makanan organik, sarapan pagi yang sehat...yang bahannya adalah hasil kebun dan hasil ternak sendiri. Mau tak mau aku jadi teringat dengan game di FB yang aku dan dia juga mainkan, Cafe World dan Farmville, lalu mau tak mau di otakku juga terpatri lukisan... gambaran dirinya yang berambut gondrong di kuncir, memakai kaos putih, celana jeans butut, celemek memasak, sedang berdiri di belakang konter sambil memegang pisau untuk memasak. Aku hilir mudik di Cafe mengantarkan pesanan. Ku utarakan gambaran itu padanya, dan dia tertawa. Tapi kemudian dia berkata bahwa ayam yang baru saja dia masukkan microwave menjadi gosong karena terlalu lama di oven, aku pun berceletuk 'Kalau begitu aku yang bagian masak dan kamu hilir mudik mengantarkan pesanan.'

Hihihi...seperti sepasang suami istri ya?

Pada akhirnya kami jadi berandai-andai sendiri, sibuk melukis mimpi itu menjadi sesuatu yang lebih indah, ditambahkan detail disini...diwarnai disana, memakai cat-cat minyak bernama harapan, dan kuas dari surai-surai keinginan.

Anno...aku ingin menjadi bagian dari lukisan itu, dan ingin membuat lukisan itu bersama mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar