Rabu, 02 November 2011
Aku, Dirinya, dan sang Cupid!
Sudah cukup lama blog ini tidak lagi ku jamah. Keinginan untuk menulis itu pudar, seiring dengan lebih banyak kenangan pahit yang tersimpan, membuatku tidak tahu... mau menulis apa, tentang siapa, bagaimana, bahkan sampai detik ini pun... ku coba untuk memaksakan menulis apa saja. Yang penting kembali mengasah kemampuan.
Baiklah, bagaimana jika bercerita sedikit tentang... dia.
Dia? Ya... dia! Sebut saja dia... tanpa embel-embel nama... karena terus terang aku baru mengenalnya tidak lama ini. Aneh memang, seseorang yang tidak terlalu ku kenal, yang keberadaannya nun jauh disana, di negeri antah berantah... dan keseharian kami hanya terjalin lewat messenger, mampu membuatku memikirkannya. Dia baik, ramah, dan sopan... mungkin itu yang membuatku tertarik. Walau usia kami terpaut... hmmmm, dia lebih muda dua tahun dariku.Yaaa... yaaa, aku tahu tanggapan kalian! Di usiaku yang cukup signifikan, dan pernah mengalami kegagalan rumah tangga... Aku tak seharusnya berurusan dengan pemuda seperti dia! Tapi rasa-ku yang bicara.
Pepatah mengatakan... jangan mencari cinta, biarkan cinta yang menghampirimu dan berjalan dengan apa adanya. Karena dengan begitu, kau tidak akan memaksakan dirimu untuk jatuh... Kau hanya terjatuh... dan itulah yang kurasa.
Setelah rumah tanggaku kandas, aku sempat berhubungan dengan seseorang.. cukup lama, dua tahun. Ku pikir dia yang terakhir, tapi aku salah. Lalu aku berkenalan dengan dia yang sekarang. Dia yang dua tahun dibawahku. Ah, cinta... kenapa kau selalu datang di saat yang paling tidak diduga, pada tempat yang paling tidak mungkin, dan orang yang paling tidak kau inginkan? Bahkan kau datang di waktu yang teramat singkat! Jika Cupid itu benar ada, dan dewa asmara tengah memainkan tintanya, ingin rasa ku tempeleng keduanya karena sudah membuatku gundah akan rasa yang timbul ini. Mungkin belum berbentuk 'cinta' ... tapi cukup membuatku 'kangen'.
Kau tahu, aku mencoba untuk realistis dan berpikir logis. Tidak akan ada masa depan, pikirku.. bahkan kenegaraan kami berbeda! Jadi jalan yang termudah adalah mengakhirinya sebelum rasa itu terlanjur berkembang menjadi sebuah 'cinta'. Ku katakan hal-hal yang mampu membuat pria manapun menjauh. Dengan angkuh ku perlakukan dia begitu buruk. Dan ya... dia pun hilang dari kehidupanku.
Sesal pun menghampiri...
" Hey, Cupid...!" Batinku berteriak.
" Aku tidak menginginkan rasa ini... dan sesal yang terus menghantui! Aku ingin terus berjalan dengan wajah yang tegak, tanpa memikirkannya, menjalani kehidupan normalku lagi... sebelum hadirnya!" pekikku kembali. " Tidak bisakah kau cabut panah asmara yang sudah terlanjur kau bidik?!!"
Ku tunggu jawaban... hening.
Hening...
Dan sesal kembali menghampiri.
***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar