Yang ku lihat kini... bukan bayangku di cermin buram itu, tapi monster...
Monster itu terus merubah bentuk, menggeliat tidak keruan, meronta-ronta... seakan ingin bebas dari kungkungan. Aku tak kuasa... sampai kapan sanggup bertahan... Ini bagai buah simalakama.
Setiap pagi beringsut datang, bukan kabut yang menguar sapaan, namun bulir-bulir bening yang siap jatuh di pelupuk mata. Berkali-kali ku kata... sabar dan ikhlas, seakan menjadi mantera di setiap menit dan detik, kala ingatan kembali melayang padamu... dan kita.
Ini memang buah simalakama. Maju kena, mundur pun kena. Bila diam memang yang terbaik yang bisa ku jaga, mau sampai kapan? Pilihanku hanya dua, bertahan dan menerima semuanya... atau mundur teratur dan pergi dalam diam. Keduanya... sama perihnya.
Dan Kau satu-satunya tempat ku mengadu... saat yang lain tiada... Percaya bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah atas se-ijin dan kehendak-Mu, terus ku bertanya... mengapa Kau tempatkan aku dalam situasi ini? Sungguh, seandainya saja tidak serumit dan sesakit ini... tapi buah simalakama, sudah tertelan kedalam kerongkongan. Dan racunnya menjalar kemana-mana...
Perih...
Bahagiaku adalah tangis untuk yang lain...
Dan doa-doa yang ku panjatkan ... berharap mendapat kekuatan, untuk pergi... tapi nyata... aku tak sanggup.
Akankah aku diizinkan untuk menjadi egois... kali ini saja? Apakah inginku membuatku menjadi seseorang yang jahat...?
Sungguh, yang kini ku lihat adalah sosok monster di cermin buram itu... siap mengambil alih, segala yang tersisa di warasku.
Tidak, aku tidak menyalahkan sesiapa. Tidak juga Engkau, dan dia. Aku masih bisa hidup tanpanya... namun perih ini seperti lubang yang menganga. Ibarat luka yang susah untuk sembuh, bagiku dia penyakit dan juga obatnya. Ya, ini memang buah simalakama.
***
kuat tabah sabar:)
BalasHapusdan selalu inget ama tuhan, munta diberikan jalan,, biar bisa lewat...
#big girl don't cry#
terima kasih :)
BalasHapus