Tampilkan postingan dengan label Short Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Stories. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Maret 2010

White Winter Dream



Terjaga…

Riri mengusap mata, masih disorientasi dengan sekelilingnya. Setengah mengantuk, pandangannya menyapu ruangan. Kamar dengan dinding putih bersih, perabotannya terbuat dari kayu dan stainless… serba minimalis. Kaos-kaos habis dipakai tergantung di salah satu sudut dinding, agak berantakan. Lemari kayu di dekatnya sedikit terbuka, memperlihatkan baju-baju dilipat agak tidak beraturan. Buku-buku tertata di meja kayu di ruangan itu, dan beberapa tumpukan buku juga tergeletak begitu saja di lantai. Alunan musik Savage Garden terdengar sayup-sayup dari speaker laptop di atas meja.

Menggeliat duduk. Selimut putih melorot dari dada sampai ke perutnya. Satu tangannya menungkup wajah, mencoba mengingat-ingat. ‘Dimana ini?’ Ia merasa pening. Asing dengan lingkungan itu, namun perasaan yang aneh juga merayap di dadanya. Nyaman.

Kakinya menjejak dari tempat tidur ke lantai. Lantai kayu itu terasa dingin dan sejuk. Penghangat ruangan di sudut dekat meja belajar membuat suhu kamar tetap terjaga meski di luar salju nampak berjatuhan perlahan dari langit. Matanya menangkap bingkai jendela yang berembun dan tertutup sedikit salju di bagian luar. Masih agak limbung, ia berjalan mendekati jendela, mengusap kacanya agar pemandangan di luar dapat terlihat.

Tumpukan salju nampak tebal, menghiasi gedung-gedung, pepohonan serta jalan-jalan setapak. Manusia yang lalu lalang berjalan tertatih-tatih dengan kaki terbenam cukup dalam, masing-masing merapatkan jaket dan mantel mereka untuk mengusir dingin yang menusuk sampai ke sumsum tulang.

Riri kemudian menangkap bayangan dirinya sendiri di kaca jendela. Sosok wanita yang di usia cukup matang terpantul disana. Wajahnya tidak cantik, namun juga tidak jelek. Dengan muka yang oval, matanya kecil dibingkai oleh alis tebal yang rapi, hidung tak terlalu mancung, dan bibir yang tebal penuh. Kulitnya sawo matang layaknya gadis pribumi kebanyakan, namun mahkota dikepalanya yang menjuntai bergelombang sampai punggung berwarna cokelat gelap, bukan hitam. Tubuhnya hanya dibalut oleh tanktop tipis berwarna putih dengan tali spagheti dan sepotong celana dalam model thong berwarna sama.

Ia mematut matut diri pada pantulan itu, setiap jengkalnya sangat ia kenali, namun sekaligus merasa asing. 'Siapa kamu...?' gumamnya dalam hati.

Tiba-tiba dari belakang sepasang tangan memeluk pinggangnya dengan lembut. Refleks Riri membalikkan badan. Ia mendapati sosok laki-laki bertubuh tinggi tengah menatapnya dengan lembut. Laki-laki itu berkulit putih dengan mata sipit dan hidung yang mancung sempurna. Wajahnya oriental dengan penghias lesung pipi di sebelah kanan. Rambutnya tebal ikal dan agak gondrong, dibiarkan berantakan begitu saja. Ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana kain model piyama warna putih.

Tangan laki-laki itu berpindah dari pinggang ke arah wajah, hendak mengusapnya. Sontak Riri mundur selangkah. 'Jangan...aku tidak mengenalmu!' Ia tidak berkata-kata, namun ekspresi wajahnya tersirat.

Tidak gentar, si laki-laki maju mendekatinya meski dengan gerakan yang hati-hati. 'Sayang, ini aku...' katanya perlahan. 'This is just me, am yours,' ujarnya lagi sambil memegang wajah Riri dengan kedua tangannya.

Kali ini Riri tidak menolak. Ia kenal dengan sentuhan itu. Matanya terpejam saat jemari lelaki itu menjelajahi wajahnya, menikmati setiap sensasi sentuhannya dengan perasaan yang aneh namun juga familiar.

'I won't let you go...ever,' ujar si laki-laki sambil mencium bibirnya. Ia membalas ciuman itu. Bukan hasrat ataupun nafsu yang ia rasakan, melainkan cinta. Aneh karena ia merasa asing, tapi disaat yang bersamaan merasa begitu dekat...begitu mengenalnya.

'I love you,' kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Riri. Ia kaget dengan ucapannya sendiri. Entah darimana asalnya.

Si laki-laki kembali tersenyum lembut. Ia memutar badan Riri sehingga membelakanginya, lalu memeluknya mesra. 'I love you too,' bisiknya pelan.

***

Riri membuka mata.

Ruangan itu hilang. Tidak ada salju, tidak ada laki-laki bertatapan lembut yang memeluknya mesra, tidak ada apapun. Hanya dirinya di dalam kamar kosnya yang gelap. Tangannya menggapai-gapai jam weker, berusaha mencari informasi waktu. Ternyata baru pukul tiga dini hari.

Rupanya ia ketiduran dengan laptop yang masih menyala.

Di layar flat 14" itu, satu instant message dari yahoo messenger menyita perhatiannya.

'Honey, still there...?' isi dari pesan singkat.

Riri tersenyum. 'Yes hon, still here...maaf aku ketiduran,' balasnya cepat. 'Aku tadi mimpi aneh...' ketiknya lagi.

'Mimpi apa?'

'Mimpi kamu...'